Boman's Fishing Trip

Perjalanan Mancing Boman

Sport Fishing Tanjung Bangko-Bangko-Lombok

19-24 September 2009 lalu, Pak Eko dan keluarga berkenan mengajak saya serta beberapa rekan mancing dari Suren-Banyumanik berlibur ke Lombok. Bukan libur biasa pada umumnya, tapi sekaligus menjajal beberapa spot mancing di Lombok.

Sesuai kontak jauh hari sebelumnya dengan Pak Saliman [Atau Pak Amang, owner dari Toko Pancing Delta Raya Ampenan-Lombok], tim merencanakan trip ke Tanjung Bangko-Bangko, Lombok Selatan.

Selasa pagi, homestay yang kami sewa masih sepi. Trip fun fishing sepanjang Senin (21 September) cukup menguras tenaga. Sekitar jam 9, baru mulai ada kegiatan. Eko-Katak dan saya sendiri mulai mengecek kembali peralatan yang akan dibawa. Sesuai kesepakatan dengan Pak Amang, tim baru akan berangkat jam 12 siang.

Jam 11, avanza hitam sudah lengkap dan siap berangkat dari homestay kami yang terletak di perkampungan depan hotel Bintang Senggigi, Meninting-Senggigi. Hanya setengah jam perjalanan mobil menuju pinggir pantai Ampenan, dimana kapal milik Pak Amang menunggu kami. Dan segera setelah semua tim siap, kapal langsung berangkat.

Mobil Lapangan Tim GNP

Black Avanza

Cuaca selat Lombok siang itu cukup bersahabat. Meski tidak terlalu berharap, dengan cuaca setenang ini, bayangan strike ikan sudah menghiasi pikiran. Kapal fiber dengan Kapten Pak Amang, 2 ABK (Ari dan Zenal) dan kami berlima ( Pak Eko, Pak Joko, Eko-Katak, Fredy dan saya sendiri) melaju tenang.

Mengingat keberangkatan di siang hari, sepanjang Selasa kami habiskan dengan mbrandil. Memancing kotrek untuk mendapatkan sebanyak mungkin umpan hidup.

Dihari berikutnya, Rabu 23 September, saatnya benar-benar sport fishing.

Bergantian Pak EKo, Pak Joko, Eko-Katak, juga Fredy strike serta berhasil menaikkan ikan.

Ikan terbesar dan terberat dihari itu adalah tuna gigi anjing sekitar 14-anKG. Read the rest of this entry »

Advertisements
2 Comments »

Kemenangan Sempurna di Karimun Jawa

Sabtu pagi 24 Oktober 2009. Untuk kali kedua, Tim GNP kembali berangkat menuju Karimun Jawa. Mengikuti Lomba Mancing Piala Bupati Karimun Jawa 2009, 24 sampai dengan 25 Oktober 2009.

Trunul 12.2Kg

Trunul 12.2Kg

Kali ini, tim inti sebagian besar masih sama dengan tim yang berangkat tahun 2008 lalu. Pak Eko, Wiwid, Eko-Katak, Arief dan saya sendiri. Minus Pak Joko.

Seperti yang diprediksikan banyak pihak, cuaca Sabtu tidak terlalu bersahabat.  Angin kencang dan arus yang cukup deras, memaksa penyeberangan Kapal Cepat Kartini menjadi cukup lama. 3 jam lebih. “Bayangkan saja. Angin kencang dari arah timur dan arus deras dari barat, bertemu ditengah-tengah. Silakan pikir sendiri gambaran persisnya,” jelas Katak, saat sama-sama nikmati susu jahe, sepulang dari Karimun, Minggu malam.

Kenyataannya, angin dan arus masih juga cukup deras, bahkan dimalam hari. Namun, saya tak ingin sia-siakan waktu dengan tidur. Meski sudah cukup rutin melakukan trip mancing ke laut, trip ke Karimun hanya sesekali saja. Dan biasanya hanya saat lomba seperti ini.

Jadi, saya habiskan malam Minggu dengan memancing dasaran. Hitung-hitung untuk menambah tip bagi kapten kapal yang digunakan tim. Syukurlah, strike dasaran malah sangat bagus. Beberapa ekor kerapu, kerang-kerong dan kakap setelapak tangan berhasil saya naikkan.

Dari strike sepanjang Sabtu, tim samasekali belum ada bayangan akan meraih satu gelar juara. Belum ada ikan target yang cukup untuk ditimbang. Read the rest of this entry »

3 Comments »

Roseola Itu Berakhir Pada Kejang Demam

Sabtu, 4 Pebruari 2006, jam 4 sore teng aku bergegas pulang. Masih ada Zalwa menunggu dan aku telah siapkan ribuan energi untuk habiskan waktu bersamanya.

Masuk ke rumah, Zalwa sedang tiduran di Spring Bed yang digelar didepan TV. Matanya tampak sembab. Jawab Mbah Putri kalau Zalwa ngamuk dan berontak waktu mandi sore menegaskan ingin tahuku. Ah, masih juga Zalwa tak suka mandi.

Badan sumengnya yang aku raba waktu istirahat makan siang tadi smakin terasa. Kali ini sumeng berubah menjadi hangat. Dengan muka manis aku tawarkan menggendong Zalwa, skaligus berusaha memasukkan sedikit makanan. Sedari pagi, kecuali sekantong kentang junk food pas sarapan, blum ada makanan apapun yang masuk diperut gendutnya.

Kanfer Semarang hujan lagi. Terpaksa aku berbekal payung, menuruti paksaan Zalwa yang meminta keluar dan jalan-jalan. Tak sesuap pun nasi yang sukses aku masukkan. Zalwa sudah sangat pintar katupkan mulut atau pun menyepah sendok dengan kedua tangannya.

6 sore, hangat badan zalwa smakin terasa meninggi. Aku tergerak berikan 1 sdt penurun panas. Entah karena semakin tidak enak badan, sirup penurun panas yang biasanya bgitu mudah masuk mulut Zalwa, hanya sukses masuk stengah. Dan, seperempat jam kemudian, momen traumatis itu datang juga.

Zalwa minta bobok di Spring Bed depan TV. Belum 15 menit aku temani lelapnya, Zalwa tampak terkejut. Refleks aku menenangkan dengan menepuk tangannya. Ternyata, malah Kejang Demam.

Mata indah Zalwa terbalik refleks menghadap keatas. Gigi geliginya menggegat dan tubuh mungilnya menggigil tak terkendali. Spontan aku menjerit dan memanggil Mbah Putri….”Mbahhh, Zalwa step…cepet Mbah….”

Ditengah panik, aku masih sempat berpikir. Mbah Putri pun langsung bertindak, mengambil air hangat dan mengusap-usapkannya di kepala Zalwa. Kurang lebih 5 menit kmudian, Zalwa bisa kembali sadar.

Tulisan ini aku post diblog friendsterQ.

Minggu dinihari, menjelang stengah 2. Aku baru saja jenak dari rasa gelisah. Zalwa tampak tenang dalam tidurnya. Sekian detik ketika ingin rebahkan kepala di bantal, tampak tubuh Zalwa terentak sedikit. Tuhan! Jangan sekarang….

Dan doa itu tak selesai karena aku kembali menjerit memanggil Mbah Putri….”Mbah, Zalwa step lagi……”

Kembali ritual menyadarkan Zalwa kami lakukan. Kali ini berdua, karena Mbah Kakung telah lelap dengan batuknya yang belum juga mereda.

Sekian menit, Zalwa kejang sambil pipis [Alhamdulillah]. Dan kali ini sadarnya agak lama dan ketika sadar, kepalanya hanya mampu melunglai di dadaku.

Setelah mengganti baju yang basah oleh pipis, juga air hangat untuk menyadarkan Zalwa, pun mengganti baju Zalwa, aku memutuskan utk kali ini langsung ke UGD. Sekali ini berterimakasih pada perbedaan waktu di Inggris dan Indonesia. Ada tetangga yg melek karena pertandingan bola dan berbaik hati mengantarkan aku dan Zalwa ke UGD terdekat.

Momen traumatis itu ternyata tak selesai. 2 hari lebih diinfus dan diinjeksi AB, Zalwa sama sekali tidak membaik. Sang dokter pun tak tergerak untuk katakan itu Roseola. Radang Tenggorok tampaknya lebih disukai.

Selasa siang, 7 Pebruari, aku minta rawat jalan. Dan Jumat pagi, 10 Peb, semua ruam merah seperti ingin berlomba keluar di sekujur tubuh zalwa. Demam sudah mulai hilang sejak Rabu pagi, 8 Peb. Semoga Senin lusa, aku bisa pastikan, Zalwa sudah siap untuk kembali berjoget dan nyanyikan, “Kupu-kupu yang lucu……”

 Subhanallah. Kini, Salwaa sudah 3,5 tahun. Alhamdulillah, sepanjang diuji oleh sakit, Salwaa tidak pernah sampai kejang lagi. Tulisan diatas aku post pada Pebruari 2006 lalu..

Leave a comment »